Garut – Penasakti.com // Praktek cek golongan darah di SMP Negeri 1 Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat diduga telah melanggar standar prosedur operasional kesehatan yang beresiko tinggi terhadap keselamatan siswa.

Selain tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD), dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dipandu langsung oleh guru mata pelajaran IPA dan tidak melibatkan tenaga kesehatan.

Dari hasil pantauan Tim Liputan Penasakti.com Selasa ( 21/04/2026 ), sejumlah siswa di SMP Negeri 1 Leles sedang mengikuti praktek cek golongan darah yang dipandu langsung oleh guru mata pelajaran IPA.
Ironisnya, guru pembimbing yang melakukan praktek penusukan jarum untuk mengeluarkan darah tidak dilengkapi alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker sesuai standar pelayanan kesehatan.
Guru mata pelajaran IPA SMP Negeri 1 Leles Yani Hodijah mengatakan, praktek cek golongan darah ini diberikan khusus untuk siswa kelas 9 yang pelaksanaannya mengikuti jadwal pelajaran IPA di masing – masing kelas.
Yani menegaskan, pihak sekolah tidak melibatkan tenaga kesehatan dalam praktek cek golongan darah tersebut lantaran para guru telah diajarkan oleh ahli di bidangnya semasa menjalani kuliah.
” Pelaksanaan ini murni dilakukan oleh guru IPA di kelas 9, insyaallah kami profesional dibidang ini karena di kuliah itu kami diajarkan oleh ahlinya oleh dosen kami, kami tidak memakai sarung tangan karena tangan kami sudah dibersihkan dulu sudah dicuci pakai alkohol”, ujar Yani.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Jawa Barat Yodi Sirojudin, S.Si, M.H.Kes. menyampaikan, kegiatan tersebut tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, hanya sebatas praktek saja namun ada beberapa masalah dari sisi keselamatan, etika, dan standar pelayanan kesehatan.
Menurut Yodi, praktik pemeriksaan golongan darah termasuk tindakan invasif sederhana (melibatkan darah), sehingga berisiko penularan penyakit seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV/AIDS.
Praktek cek golongan darah tersebut harus dilakukan dengan standar kewaspadaan yang baik dan idealnya dilakukan oleh tenaga kesehatan atau di bawah supervisi fasilitas kesehatan.
Guru IPA tanpa APD dan tanpa pelibatan tenaga kesehatan berarti tidak memenuhi prinsip keselamatan pasien (dalam hal ini siswa).
” Standar minimalnya adalah menggunakan APD, sarung tangan, masker, sterilitas alat lanset harus steril dan sekali pakai”, ujar Yodi Sirojudin.
Selain itu, lanjut Yodi Sirojudin, praktek cek golongan darah sebaiknya melibatkan fasilitas kesehatan, laboratorium, puskesmas, atau tenaga kesehatan terlatih lainnya untuk memastikan sistem pengelolaan limbah medis seperti halnya jarum bekas harus masuk safety box, tidak boleh dibuang sembarangan.
” Kalau dimaksud untuk edukasi, lebih baik simulasi dan menonton kegiatan-kegiatan serupa atau dibawah pengawasan tenaga kesehatan”, pungkas Yodi Sirojudin.
Kondisi di SMP Negeri 1 Leles ini diharap segera mendapat perhatian khusus dari pemerintah utamanya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, karena praktek ini tergolong memiliki dampak resiko terhadap para siswa.
Meski terlihat sederhana, praktek cek golongan darah ini melibatkan kontak dengan cairan tubuh. Tanpa sarung tangan dan sterilisasi yang benar, terdapat risiko penularan virus berbahaya dan kuman dari tangan petugas dapat berpindah ke luka tusukan siswa, yang dapat menyebabkan infeksi sekunder.
( Penulis: Agus YL )