“Harapan para seniman dan budayawan Pemerintah propinsi Peduli Sejarah Kota dan Kabupaten Sukabumi”
Penulis Rudy Januar susafha,AMd,S.Pd,SE,M.Si ketua DPD satria Sunda sakti Sukabumi raya
Penasakti.com || Napak tilas sejarah Kerajaan Pajajaran di wilayah Sukabumi merupakan perjalanan yang menarik, karena daerah ini merupakan bagian penting dari teritorial inti (jantung) kerajaan tersebut sebelum pusat kekuasaan berpindah atau runtuh.

Dalam naskah kuno *Carita Parahyangan*, wilayah Sukabumi sering dikaitkan dengan jalur transportasi dan pertahanan Pajajaran.

Berikut ; adalah beberapa titik dan aspek penting untuk melakukan napak tilas sejarah Pajajaran di Sukabumi :
1. Situs Karang Leyek dan Prasasti Sanghyang Tapak (Cibadak)
Salah satu bukti paling autentik kehadiran pengaruh Pajajaran (atau pendahulunya, Kerajaan Sunda) adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak.
Sejarah: Prasasti ini dibuat oleh Raja Sri Jayabhupati (Raja Sunda) pada tahun 1030 M.
Isi: Menetapkan kawasan sungai sebagai *daerah terlarang* (sanghyang tapak) untuk melindungi ekosistem sungai.
Ini menunjukkan sistem pemerintahan yang sudah tertata jauh sebelum era Prabu Siliwangi.
2. Jalur Klasik “Jalan Raya” Pajajaran
Sukabumi merupakan perlintasan utama dari pusat kekuasaan di Pakuan (Bogor) menuju wilayah timur (Galuh).
Rute: Jalur yang sekarang menjadi jalan raya Bogor-Sukabumi-Cianjur diyakini sebagai rute kuno yang digunakan oleh pasukan dan utusan kerajaan.
” Napak Tilas: Melintasi daerah perbatasan Bogor-Sukabumi di Cicurug, yang secara topografis merupakan pintu masuk ke lembah di bawah kaki Gunung Salak dan Gede Pangrango.
3. Punden Berundak dan Situs Megalitik (Cisolok & Cikakak)
Meskipun banyak situs bersifat megalitik (jauh sebelum Pajajaran), masyarakat di masa Pajajaran tetap memuliakan tempat-tempat ini sebagai lokasi pemujaan leluhur.
” Situs Cengkuk: Terletak di Cikakak, merupakan pemukiman kuno yang menyimpan benda-benda logam dan batu.
” Filosofi: Pajajaran sangat memegang teguh konsep *Jati Sunda*, di mana penghormatan terhadap alam dan gunung-gunung di Sukabumi (seperti Gunung Halimun dan Salak) menjadi bagian dari spiritualitas mereka.
4. Tradisi Kasepuhan Adat (Ciptagelar, Sinar Resmi, Ciptamulya)
Napak tilas yang paling “hidup” adalah dengan mengunjungi Kasepuhan di wilayah Cisolok.
” Kaitan Sejarah: Masyarakat Kasepuhan mengaku sebagai keturunan prajurit Pajajaran yang ditugaskan menjaga wilayah selatan atau yang melakukan eksodus saat Pakuan runtuh.
” Budaya: Mereka masih menjalankan tradisi pertanian (Seren Taun) yang sudah ada sejak zaman kerajaan, termasuk sistem lumbung padi (leuit) yang menjadi simbol ketahanan pangan masa lalu.
5. Legenda Goa Lalay dan Pesisir Selatan
Di Palabuhanratu, terdapat banyak legenda yang mengaitkan Prabu Siliwangi dengan penguasa laut selatan.
” Napak Tilas: Mengunjungi jejak-jejak yang dianggap sebagai tempat semedi atau peristirahatan raja-raja Sunda saat mereka melakukan perjalanan ke pesisir selatan untuk memantau wilayah maritim.
6. Nama Wilayah (Toponimi)
Banyak nama daerah di Sukabumi yang mencerminkan fungsi wilayah tersebut di masa lalu, misalnya:
” Parung Kuda:** Tempat transit atau pergantian kuda ekspedisi.
” Palabuhanratu: Pelabuhan yang digunakan untuk perdagangan internasional di masa Pajajaran (terutama lada).
(Red)