Kantor Pertanahan Kota Bandung Jadi Barometer Nasional, Kantah Jakarta Utara Adopsi Strategi WBBM
Kota Bandung – Penasakti.com // Komitmen kuat dalam memangkas birokrasi dan menghadirkan pelayanan publik prima terus digaungkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Menegaskan posisi sebagai salah satu unit kerja percontohan nasional, Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Bandung menerima kunjungan studi tiru strategis dari Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Utara.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial lintas wilayah. Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi kedua satuan kerja (satker) untuk membedah strategi, menyelaraskan persepsi, dan memperkuat implementasi Pembangunan Zona Integritas (ZI).
Target besarnya kunjungan ini sangatlah jelas yakni meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sebagai sebuah simbol kasta tertinggi dalam transformasi birokrasi Indonesia.
Dalam forum diskusi yang berlangsung intensif, kedua satker saling melempar gagasan dan membedah praktik terbaik (best practices).
Kantah Kota Bandung memaparkan berbagai lompatan inovasi digital dan manajemen operasional yang berhasil memotong kompromi dan waktu tunggu layanan pertanahan.
Delegasi Kantah Jakarta Utara secara aktif menggali aspek teknis terkait konsistensi pemeliharaan sistem dan strategi menjaga integritas SDM.
Diskusi dua arah ini memetakan tantangan nyata di lapangan mulai dari resistensi internal terhadap perubahan sistem, hingga cara mengedukasi masyarakat agar beralih ke layanan mandiri berbasis aplikasi.
Selain menjadi wadah transfer ilmu, kegiatan studi tiru ini menjadi instrumen penting untuk meruntuhkan ego sektoral antar satker di lingkungan Kementerian ATR/BPN.
Transformasi menuju birokrasi modern tidak dapat berjalan sendiri-sendiri secara parsial. Dibutuhkan standarisasi mutu yang merata dari Sabang sampai Merauke.
Melalui transfer pengetahuan ini, Kantah Jakarta Utara dapat langsung mengadopsi formula sukses yang sudah teruji di Kota Bandung, tanpa harus melewati fase trial and error yang memakan waktu dan anggaran.
Sinergi ini diharapkan mampu mengeliminasi disparitas kualitas pelayanan antar daerah metropolitan.
Kunjungan lapangan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjaga api reformasi birokrasi di instansi masing-masing.
Output nyata yang dibidik dari studi tiru ini bukan sekadar tumpukan laporan di atas kertas, melainkan perubahan perilaku aparat yang jauh lebih profesional, akuntabel, dan berorientasi penuh pada kepuasan masyarakat.
Dengan penguatan komitmen ZI menuju WBBM ini, kedua kantor pertanahan sepakat bahwa indikator keberhasilan sejati bukanlah piagam penghargaan.
Keberhasilan sejati adalah ketika masyarakat selaku pengguna layanan dapat mengurus sertifikat tanah mereka dengan rasa aman, cepat, transparan, dan tanpa biaya siluman.
( Red )
