Garut – Penasakti.com // Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut, Jawa Barat kembali tercoreng.

Alih-alih menyajikan makanan higienis dan bergizi, temuan mencengangkan justru terkuak di lapangan.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Garut Kadungora Mekarbakti yang dinaungi Yayasan Cakrawala Global Sabilulungan, ditemukan beroperasi tepat berdampingan dengan kandang ayam dan bebek.
Kondisi dapur ini sangat memprihatinkan dan jauh dari standar kelayakan. Bau menyengat kotoran hewan bercampur kepulan lalat dengan bebas masuk ke area pengolahan makanan.
Lingkungan yang kotor ini jelas menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan higienitas asupan gizi yang seharusnya diterima oleh masyarakat.
Menanggapi pelanggaran fatal Standar Operasional Prosedur (SOP) tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengambil langkah tegas dengan menutup sementara operasional SPPG ini.
Penutupan dilakukan menyusul inspeksi dan verifikasi lapangan yang membuktikan ketidakpatuhan pihak pengelola terhadap standar kelayakan lingkungan dapur.
Meski langkah penutupan patut diapresiasi, temuan ini menyisakan lubang besar dalam sistem pengawasan program nasional ini.
Publik kini mempertanyakan bagaimana bisa sebuah lokasi yang berdekatan dengan sumber pencemar (kandang hewan) lolos verifikasi dan penentuan titik lokasi oleh BGN?
Apakah ketatnya regulasi higienitas yang selama ini didengungkan hanya sebatas angan-angan di atas kertas?
Kekhawatiran masyarakat kian memuncak karena Yayasan Cakrawala Global Sabilulungan diketahui masih menguasai dan mengoperasikan dua dapur MBG lainnya di wilayah Kabupaten Garut.
Ironisnya, Camat Kadungora Mohamad Badar Hamid yang namanya kerap disebut sebagai Satgas Penanganan dan Pengawasan Kabupaten, mengaku sama sekali tidak dilibatkan dalam penentuan titik-titik lokasi tersebut.
Terkait pengawasan, Badar menjelaskan bahwa Satgas MBG di tingkat kecamatan saat ini belum dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunan maupun penentuan lokasi dapur SPPG.
“Kami lebih difungsikan saat dapur sudah operasional, terutama dalam koordinasi penerima manfaat. Untuk tahap perencanaan dan penetapan titik, sementara ini kami belum dilibatkan,” ujar Mohamad Badar Hamid kepada Penasakti.com Jumat ( 29/05/2026 ).
Masyarakat mendesak BGN tidak tinggal diam dan segera melakukan audit serta inspeksi mendadak ke dua titik dapur lainya milik Yayasan Cakrawala Global Sabilulungan.
Kegagalan penyaringan di awal ini menjadi preseden buruk yang menimbulkan tanda tanya besar, apakah bobroknya tata letak SPPG ini merupakan bukti nyata bahwa BGN kecolongan di garis depan?
Masyarakat menanti transparansi dan tindakan konkret dari BGN demi menyelamatkan kualitas gizi dan nyawa para penerima manfaat.
( Penulis: Agus YL )
