Garut – Penasakti.com // Program Makan Bergizi Gratis yang seharusnya membawa keceriaan, justru diduga berubah menjadi mimpi buruk bagi sejumlah siswa di SD Negeri 2 Hegarsari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat.


Sejumlah siswa terpaksa dilarikan ke Puskesmas terdekat setelah mengalami gejala mirip keracunan yang sangat mengkhawatirkan orang tua.


Mereka mengeluhkan demam tinggi, mual hebat, muntah-muntah, hingga diare.
Berdasarkan sejumlah informasi, petaka ini diduga kuat akibat mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan pada Selasa lalu. Gejala mulai dirasakan dan bereaksi secara masif pada hari Rabu dan Kamis, sehingga membuat orang tua siswa resah.
” Banyak anak yang tiba-tiba sakit tapi belum diketahui penyebabnya, beberapa guru juga banyak yang sakit termasuk pak Kepala Sekolah, kemarin dari Polsek dan Puskesmas udah kesini minta data jumlah siswa”, ujar Dini Kusmawati Guru SD Negeri 2 Hegarsari kepada Penasakti.com Jumat ( 22/05/2026 ).
Rasa kecewa dan kecemasan orang tua murid kini memuncak. Menanggapi insiden yang membahayakan nyawa anak-anak mereka, pada Kamis pagi ( 21/5/2026 ), para orang tua sepakat mengambil sikap tegas menolak keras kiriman jatah makanan MBG dari pihak penyelenggara.
” Kamis kemarin orang tua siswa menolak kiriman MBG, sebenarnya sudah diturunkan jadi saya meminta untuk diambil lagi oleh pihak SPPG”, jelas Rika salah satu penjaga sekolah.
Dugaan ini semakin menguat saat Tim Liputan Penasakti.com mencoba melakukan konfirmasi ke SPPG Dapur Hegar Sari Kadungora yang berlokasi di Kampung Haur Kuning, Desa Hegar Sari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Pintu utama dapur SPPG tertutup rapat, kendaraan pengantar terparkir berjajar, dan tidak terlihat adanya aktivitas pengolahan makanan.
Ironisnya, Kepala SPPG Hegar Sari Kadungora justru memilih bungkam kepada awak media saat ditanya terkait kebenaran peristiwa tersebut.
” Kami belum bisa memberikan pernyataan terkait hal tersebut karena belum tentu kebenarannya, kami masih menunggu hasil uji dari Dinas Kesehatan”, ujarnya.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi pengawasan standar mutu dan higienitas pangan. Orang tua mendesak pihak berwenang melakukan investigasi tuntas terhadap penyedia makanan. Keselamatan anak bangsa tidak boleh dikompromikan!
( Penulis: Agus YL )
